PGRI TOLAK PEMOTONGAN INSENTIF GURU

KABAR GURU - Rencana Pemkot Samarinda memangkas anggaran untuk gaji insentif guru mendapat perlawanan dari Forum Guru Republik Indonesia (PGRI) Samarinda. Apa yang dilakukan pemkot dengan alasan melakukan penghematan sebagai sesuatu yang tak bisa diterima.

“Wah terus terang saja rencana pemkot itu tidak bisa kami biarkan. Dalam waktu dekat kami akan membuat janji untuk bertemu Walikota Syaharie Jaang. Kalau memang ada langkah menghemat anggaran, jangan sampai gaji insentif guru yang dikurangi. Bagaimana nasib para guru yang hanya mengandalkan gaji insentifnya,” kata Hari Murti, Ketua PGRI Samarinda.

PGRI TOLAK PEMOTONGAN INSENTIF GURU
Logo PGRI


Sebagai mantan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Samarinda yang sudah sering mendengar keluhan setiap tenaga pengajar tersebut, Hari Murti mengungkapan kalau sebagian besar sekolah memiliki guru dengan status honorer. “Saat ini gaji insentif guru dari anggaran pemkot hanya Rp700 Ribu dan angka itu sudah sangat minim jika dibandingkan dengan insentif daerah lain seperti Berau dan Balikpapan yang bisa mencapai Rp1 Juta lebih,” ungkapnya.

Pemerintah kata Hari Murti harus konsisten karena menyangkut kesejahteraan guru sebagai pengajar generasi penerus bangsa. “Kalau guru saja tidak disejahterakan, bagaimana mereka mau mencerdaskan anak-anak kita di sekolah,” tegasnya.
Selebihnya ia juga mengungkapkan untuk saat ini pencairan gaji insentif masih sering tertunda. “Sudah cukup guru bersabar karena gaji tertunda berbulan-bulan, jangan ada lagi kebijakan pemkot yang dinilai tidak mensejahterakan guru, sebab sektor pendidikan juga sangat penting. Saya akan meminta semua bersatu menyampaikan keluhan kepada Pemkot Samarinda,” ucap Hari Murti lagi Seperti diberitakan harian ini kemarin, kesabaran guru dalam mengajar murid mereka mendapat ujian tambahan yaitu pemangkasan insentif oleh pemkot imbas dari pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) yang terkena pengurangan sebesar Rp501 Miliar padahal jatah pemkot tahun ini sebesar Rp3,6 triliun namun karena dipangkas Pemerintah Pusat akhirnya hanya mendapat menjadi Rp2,6 triliun.
Dengan alasan penghematan dengan anggaran yang ada, akhirnya insentif guru dikorbankan untuk dipotong dengan nilai yang belum diketahui jumlahnya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda Asli Nuryadi menegaskan kalau itu terjadi maka guru diminta menerima dan bersabar. “Waktunya guru mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak meskipun insentifnya dikurangi,” kata Asli..
Plt Sekkot Samarinda Hermanto menambahkan selain insentif guru, tunjangan pegawai pun bakal dikurangi sebagai langkah untuk menghemat anggaran yang ada. “Opsi pemangkasan belanja pegawai bisa jadi opsi terakhir, sebab berdasarkan jumlah keseluruhan, belanja tak langsung pemkot Rp 1,3 miliar, biaya langsung Rp 1,8 miliar sementara belanja pegawai 1,2 miliar sehingga tunjangan ataupun insentif guru bisa tertahan atau dipangkas,” kata Hermanto saat itu.(www.korankaltim.com)

Sekian semoga bermanfaat. Terima kasih.