KABAR GURU, JAKARTA- Pemerintah akan memberikan sertifikat tambahan kepada ribuan guru adaptif SMK agar mampu menjadi guru produktif. Kebijakan ini untuk memenuhi kebutuhan 91.000 guru produktif di SMK.
”Saat ini SMK membutuhkan 91.000 guru produktif untuk empat program khusus padahal jumlah guru yang tersedia hanya berjumlah 16.000 orang,” Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sumarna Surapranata saat Konferensi Pers Hari Guru Nasional 2016, di kantor Kemendikbud, Jakarta, kemarin. Untuk diketahui, dalam jenjang SMK ada tiga jenis guru. Ada guru normatif yang mengampu pelajaran Pendidikan Agama atau Pendidikan Kewarganegaraan, guru adaptif yang biasa mengajar Fisika dan Kimia serta guru produktif yang mengampu program-program khusus.
![]() |
| Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) |
Keempat program khusus itu adalah studi Maritim Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Pariwisata dan Industri Kreatif. Pranata menjelaskan, upaya memberikan sertifikat tambahan kepada guru adaptif akan mulai dilakukan tahun depan. Nantinya setiap tahun akan ada program sertifikasi pendidikan dan sertifikasi keahlian bagi 15.000 orang guru. Program ini terus dilakukan hingga kekurangan guru produktifterpenuhi.”Kami mulai tahun ini memberi sertifikat (profesi) tambahan atau sertifikat ganda kepada guru adaptif. Dengan dua sertifikat ini, mereka jadi bisa mengajar dua mata pelajaran,” katanya.
Untuk mendapat guru yang benar-benar ahli, kata Pranata, para calon guru dobel sertifikat itu akan diseleksi dengan tes bakat skolastik. Pelatihan akan dilaksanakan selama 12 bulan melalui pembelajaran mandiri di sekolah, pelatihan di dunia industri serta magang di salah satu SMK produktif. ”Mulai dilatih pada 3 Desember. Kita libatkan LPTK dan juga P4TK,” katanya. Para guru yang sudah dilatih ini, katanya, akan dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat pada Desember atau November 2017.
Menurut Pranata, program dobel sertifikat ini tidak akan berpengaruh pada tunjangan profesi, tetapi lebih pada status profesionalitas mereka akan meningkat karena ahli dalam bidang mata pelajaran adaptif dan produktif. Ketua Litbang PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mohammad Abduhzen berpendapat, kebijakan dobel sertifikat ini bagus sekali asalkan didahului dengan pelatihan- pelatihan pada bidang yang diperlukan.
Dia meminta pemerintah memperhatikan kompetensi para guru yang akan mengikuti program ini, sehingga pemberian sertifikasi ini tidak mengulang sertifikasi portofolio yang dia anggap tidak memiliki manfaat kualitatif. ”Ini sebenarnya langkah darurat untuk mengatasi dengan cepat kekurangan guru produktif,” terangnya. Abduhzen menambahkan, agar semakin menarik minat guru untuk mempunyai dobel sertifikat, semestinya pemerintah juga memberikan insentif.
KABAR LAINNYA :
- Guru Honorer adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Sebenarnya. 11 Pahit Manis ini yang kamu rasakan ketika menjadi guru honorer
- Kesempatan Emas! Ada Ribuan Lowongan Guru
- 2017, Dana Rp 39,82 triliun Selain Peningkatan Pembangunan Sekolah Standar Inpres, Kemendikbud Fokus Pemberian TPG Guru Non PNS
- Alhamdulillah,,,Pemerintah segera Lunasi Utang Tunjangan Profesi Guru Madrasah
Sekian Informasi Keluh kesah Pahlwan Tanda Jasa diatas yang kami lansir dari media online www.koran-sindo.com Jangan lupa dapatkan kabar terbaru seputar dunia Pendidikan, Guru, Pns secara otomatis di timeline facebook anda dengan like fanspage KABAR GURU.
Untuk informasi lainnya silahkan kunjungi laman INI. Terima kasih.
Sekian Informasi Keluh kesah Pahlwan Tanda Jasa diatas yang kami lansir dari media online www.koran-sindo.com Jangan lupa dapatkan kabar terbaru seputar dunia Pendidikan, Guru, Pns secara otomatis di timeline facebook anda dengan like fanspage KABAR GURU.
Untuk informasi lainnya silahkan kunjungi laman INI. Terima kasih.

