KABAR GURU - Zaman sekarang yang serba modern ini banyak anak-anak yang dapat
mengenyam pendidikan dengan fasilitas memadai, akses jalan yang sangat
mudah ditempuh dan tenaga pengajar yang digaji sesuai dengan pekerjaan
ditambah tunjangan dan sertifikasi guru membuat tenaga pengajar semakin
sejahtera.
Namun berbeda jauh bagai langit dan bumi apa yang dialami peserta
didik dan tenaga pengajar yang berada di SDN 2 Elok Kolong Desa Tebuah
Kecamatan Subah Kabupaten Sambas ini. Duta Pendidikan 2016 melakukan kegiatan bakti sosial bertajuk “Duta
Pendidikan Goes to Subah” melakukan bakti sosial disana pada 7-9 Oktober
2016. Sebanyak tujuh anggota komunitas bentukkan FKIP Universitas Tanjungpura (Untan) turut serta dalam kegiatan ini.
Anak-anak di sana harus belajar dengan segala keterbatasan,
mulai dari fasilitas seperti ruang kelas, meja dan kursi seadanya, buku
pelajaran, akses jalan yang jelek dan jauh bahkan meraka tidak mempuyai
seragam sekolah untuk pergi ke sekolah. Mereka hanya berjalan kaki menempuh perjalanan sekitar 5 Km.
Bahkan ada dua siswa kelas 2 dan 4 panggil saja namanya Resta dan Riko menempuh jarak sekitar 6 Km dari rumahnya ke sekolah. Tanpa sepatu dan tas mereka harus berjalan kaki dari pukul 05.00 pagi dan biasa sampai ke sekolah pukul 07.00. Tak jarang mereka terlambat datang ke sekolah, apabila sudah memasuki musim penghujan karena jalan yang berlumpur.
“Saya berangkat ke sekolah bersama adik saya biasanya pukul 05.00 pagi
bang dari rumah, itu pun biasa sering terlambat, bukan kami lambat
berjalan atau bergurau tapi memang jarak rumah ke sekolah sangat jauh
apalagi pada saat hujan. Kadang buku kami basah karena hanya kami
jinjing tanpa tas bahkan kami sering tergelincir saat berjalan,” tutur
Riko anak kedua dari tiga bersaudara itu dengan nada agak sedikit gugup
pada saat saya wawancarai.
Semangat belajar dan menuntut ilmu anak-anak di SDN 2 Elok Kolong ini sangat luar biasa.Meskipun harus belajar di ruang kelas yang berlantaikan tanah,
berdindingkan anyaman bambu dan beratapakan daun atap yang sudah banyak
bolong, pergi ke sekolah berjalan kaki bahkan banyak anak di sana yang
pada nyeker pergi ke sekolah karena memang tidak ada sepatu untuk
dipakai.
Tapi itu semua tidak menghalangi semangat belajar anak-anak
disana bahkan semangat merekamengalahkan anak-anak di perkotaan yang
serba lengkap katanya. Begitu juga dengan guru-guru yang mengajar di SDN 2 Elok Kolong ini.
Mereka adalah Albertus Alang, Stepanus Agung, Dominikus Udut dan
Noerhayati. Mereka pantas diberi “1.000 Jempol”.
| Siswa SDN 2 Elok Kolong antusias ikut belajar saat tim Duta Pendidikan melakukan aksi sosial di SDN yang terletak di Desa Tebuah Kecamatan Tuah Subah Kabupaten Sambas. |
Meskipun mereka hanya digaji dengan beras hasil pemberian warga tidak
menghalangi semangatnya untuk mencerdakan anak bangsa. Mereka harus
mencari tambahan biaya hidup dengan mengojek bahkan tak jarang mereka
harus mencari emas di sungai demi mencukupi kebutahan sehari hari.
“Meskipun kami hanya digaji dengan bebarapa kilogram beras saja, hal
itu tidak membuat semangat kami mengajar turun. Jika bukan kita siapa
lagi yang peduli dengan anak-anak di sini. Meraka harus pintar, meraka
harus bersekolah agar kelak bisa mencapai cita-cita mereka,” ungkap
Albertus Alang dengan semangat selaku Koordinator di SDN 2 Elok Kolong.
Awalnya ada lima orang yang mengajar di sini, tetapi beriring jalan
waktu hanya tersisa empat orang yang bertahan mengajar di sini. Memang kondisi perkampunggan disini sangat jauh dari keramaian,
ditambah lagi tidak ada listrik apalagi sinyal handphone yang membuat
orang yang sesekali datang ke sini memang tidah betah.
Leader Duta Pendidikan 2016, Aam Priadi, mengaku kagum dengan guru-guru di SD N Elok Kolong ini.
“Mereka (guru) mampu menjadikan itu semua sebagai motivasi bukan
sebagai halangan demi memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia
khususnya di Kalimantan Barat agar semua orang berhak untuk mendapatkan
pendidikan yang layak demi kemajuan bangsa,” katanya.
Aam menuturkan selama di sana Duta Pendidikan melakukan aksi pemberian donasi berupa pakaian sekolah, sepatu, dan buku. Menurutnya alasan pemilihan bakti sosial dilakukan di sana, karena kondisi sekolah yang masih sangat memprihatikan. Sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas dengan berlantaikan tanah.
Sementara dinding dari anyaman bambu, serta kursi meja dan kayu hanya seadanya untuk belajar. “Alhamdulillah kami lihat sudah mulai ada pembangunan ruang kelas
baru di sana yang lebih layak. Hanya saja baru tiang bangunan. Infonya,
bangunan itu akan menjadi dua ruang kelas dan direncanakan Desember
kelar,” ungkapnya.
KABAR GURU LAINNYA :

